Jumat, 10 April 2015

Bercerita

Ketika 2 tahun yang lalu sebuah musibah datang & menimpa ayahku, seketika itu pun terjadi perubahan dalam hidupku & keluargaku. Ayah yang dulu selalu aktif dalam bermasyarakat kini harus terhenti karena keterbatasan. Ayah yang dulu selalu berdakwah untuk orang-orang sekitarnya kini harus berhenti karena keterbatasan. Ayah yang dulu menjadi panutan kini harus terdiam. Tak ada lagi dengungan khutbah yang selama ini sering ayah bacakan, tak ada lagi suara adzan yang mengajak, tak ada lagi lantunan ayat yang ayah hafalkan. Sebuah musibah yang begitu menyakitkan.

Ketika bunda yang biasanya bekerjasama dengan ayah harus mengerjakan segala sesuatunya sendiri, dengan fitrahnya sebagai perempuan bunda harus memikul pekerjaan seorang laki-laki. Begitu berat beban bunda ketika kini ayah hanya bisa terus berobat, berobat & berobat. Hidup kami yang serba pas-pasan pun semakin membuat bunda harus sering memutar otak kemana kami harus mencari sumber rezeki, mencari sepersen uang untuk melanjutkan kehidupan kami.

Entah sebuah keberuntungan atau kah memang sudah rezekinya, aa ku yang seorang guru SD yang sudah PNS & mempunyai sertifikasi sedikit menopang kehidupan kami. Semua biaya berobat ayah hampir aa ku yang menanggungnya, mungkin itu bakti aa kepada ayah & bunda.

Ketika ayah hampir pada tahap kesembuhan, kami diuji lagi dengan musibah yang tak kalah menyakitkan yang membuat keadaan ayah semakin parah. Perjuangan kami sekeluarga selama kurang lebih hampir 1 tahun tumbang dengan kondisi ayah yang tiba-tiba diuji lagi. Disinilah kesabaran ayah, bunda, aa & aku diuji kembali. Kami kembali bangkit sedikit demi sedikit mengikuti ayah sebagai kepala keluarga yang walau pun dengan keadaan yang kurang sehat. Kami berjuang bersama-sama melewati ujian ini, selalu berikhtiar apapun itu jalannya untuk menemukan kesembuhan untuk ayah.

Kini ayah menunjukan perubahan setiap tahapnya, kami bersyukur ikhtiar yang kami lakukan setidaknya membuahkan hasil terutama untuk ayah. Semua usahan yang bunda lakukan untuk ayah kembali tersenyum dan saling bekerjasama lagi sedikitnya telah membuahkan hasil meski kami hidup dengan serba pas-pasan. Ayah bunda & aku menyadari tak bisa selalu harus bergantung kepada aa, apalagi aa sudah harus menafkahi untuk keluarganya sendiri. Bunda sebagai pengganti tenaga ayah, selalu memberikan yang terbaik untukku & ayah.

Tiada kata lelah bunda sebagai pengganti tenaga ayah, bunda mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk makan & berobat ayah. Setidaknya tak sepanjang waktu bunda & aku meminta pada aa, setidaknya kami sedikit berusaha semampu kami. Aku juga tak sehebat bunda yang bisa melakukan semua yang dikerjakan bunda, setidaknya aku bisa meringankan pekerjaan bunda. Walau pun satu rupiah dapat dikumpulkan & habis dalam satu waktu itu pun, kami tetap bersyukur atas rizki dan nikmat yang Allah berikan.

Ayah....

Engkaulah panutan & penuntun kami, jnganlah menyerah dengan kondisi ayah sekarang, ayo kita berjuang & berikhtiar bersama. Kami sayang ayah....
Aku & Aa sebagai anakmu akan selalu memberika yang terbaik semampu kami, meski untuk saat ini aku belumlah seberhasil aa, tapi aku selalu berusaha semampu aku untuk aa bunda terutama ayah sehingga kalian bisa bangga terhadap adik juga anak perempuan kalian ini.

Bagi siapapun yang masih lengkap keluarganya dalam artian masih mempunyai ayah bunda lengkap, mari kita bahagiakan beliau sedari sekarang sebelum ada sesuatu yang memisahkan. Entah itu kita sebagai anak yang terpisah dari keduanya atau salah satu bahkan keduannya yang terpisah dengan kita. Semampu kita buatlah beban hidup yang mereka rasakan sedikit ringan dengan adanya kita ditengah-tengah mereka & coba rasakan beban hidup mereka sehingga kita mengerti akan apa yang mereka pikirkan, rasakan & jalankan. Setidaknya kita bisa membuat senyum atau tawa canda ditengah-tengah kegundahan hidup kita dan mereka.

Ayah.....Bunda.....Aa

I LOVE YOU